Ogah “Nganggur”, Orbits Budidaya Jamur Beromzet Jutaan (INSPIRASI)


M Agus Fauzul Hakim | Erlangga Djumena | Senin, 2 April 2012 | 14:04 WIB

1150426620X310.JPGKompas.com/ M.Agus Fauzul HakimPemuda Desa Wonokerto, Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri, Jawa Timur membudidayakan jamur tiram putih untuk meminimalisir waktu yang tidak berkualitas.


KEDIRI, KOMPAS.com
— Sekelompok pemuda di Desa Wonokerto, Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, sukses membudidayakan jamur tiram putih. Hasilnya, tiap bulan mampu membukukan omzet jutaan rupiah.

Adi Radius, koordinator pemuda setempat, mengatakan, ide awal pembudidayaan jamur yang bernama Latin Pleorotus ostreatus tersebut bermula dari banyaknya pemuda setempat yang menganggur. "Kita berharap aktivitas ini membuat para pemuda mempunyai kegiatan yang positif dan tidak terjerumus pada kegiatan negatif," kata Adi, Senin (2/4/2012).

Tempat pembudidayaannya cukup sederhana. Hanya terbuat dari gubuk seluas 4 x 7 meter yang beratapkan anyaman daun tebu. Sementara anyaman daun kelapa digunakan sebagai dinding untuk membantu kelembaban ruangan. Di dalam ruangan itu berjajar 6.000 baglog (media tanam jamur yang berupa plastik berisi serbuk kayu dan berbagai komposisi tambahan) yang tertata rapi di atas rak.

Setiap harinya para pemuda itu secara bergantian menyiramkan air dengan cara disemprotkan ke setiap baglog. Pelubangan log juga diperlukan untuk menambah jumlah tempat tumbuhnya jamur. "Penanamannya tidak sulit, hanya butuh ketelatenan dan kesabaran. Masa panennya juga relatif cepat, hanya sebulan dari tanam," imbuhnya.

Sirkulasi hasil panenannya, menurut Adi, selain para pembeli tetap yang setiap hari datang, juga disalurkan ke pasar-pasar tradisional di sekitar Kota Kediri. Setiap kilonya dihargai Rp 12.000.

Para pemuda desa itu memulai pembudidayaannya pada tahun 2010 silam dengan modal awal yang terkumpul secara swadaya sebesar Rp 30 juta. Kini, setiap bulannya kelompok yang mengatasnamakan Organisasi Bina Taruna Sosial (Orbits) tersebut mampu membukukan omzet yang lumayan besar untuk sebuah usaha di desa, yaitu Rp 10 juta. "Setidaknya dengan aktivitas ini mampu menambah waktu untuk menyibukkan diri. Sekaligus ada hasilnya secara materi," pungkas Adi.

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2012/04/02/14045420/Ogah.Nganggur.Orbits.Budidaya.Jamur.Beromzet.Jutaan

Punya Niat Berwirausaha? Lakukan 4 Hal Ini (INSPIRASI)


Ester Meryana | Erlangga Djumena | Minggu, 1 April 2012 | 09:30 WIB

icon_dibaca.gif
Dibaca: 22563
icon_komentar.gif
Komentar: 10

|
ico_email001.gif

icon_twit_a.jpg
icon_fb_a.jpg
Share:

1726416620X310.jpgShutterstockIlustrasi


KOMPAS.com
— Tidak jarang kita sering menjumpai seseorang yang mengatakan, "Saya akan mencoba berwirausaha suatu saat nanti." Tetapi ketika ditanya di lain waktu, orang tersebut masih mengatakan "suatu saat nanti." Alhasil mayoritas dari mereka justru tidak pernah mewujudkan niatnya tersebut.

Kebanyakan dari orang kerap dibayangi oleh kekhawatiran akan risiko ini itu. Pikiran orang bahwa usahanya akan gagal sering kali lebih besar ketimbang keinginannya untuk menjadi pengusaha. Menurut Forbes, kemampuan untuk mengambil risiko untuk berwirausaha, sangat sedikit hubungannya dengan kepribadian seseorang. Mengambil risiko untuk berwirausaha lebih besar hubungannya terhadap bagaimana kemampuan aksebilitas dan bagaimana dia mengenal pengalaman berwirausaha.

Mereka yang dapat membayangkan dirinya sedang menjalankan bisnis, dialah yang sering bisa mewujudkan niat wirausahanya. Sedangkan mereka yang selalu dibayangi kekhwatiran bahwa wirausaha adalah sebuah hal yang menakutkan, yang penuh risiko, akhirnya tidak pernah mewujudkan niatnya.

Berikut empat tips yang diharapkan bisa membantu mewujudkan niat wirausaha Anda:

Pertama, cari teman-teman baru. Salah satu cara terbaik untuk mempelajari wirausaha adalah dengan berteman dengan sejumlah pengusaha. Tidak musti berteman dengan pengusaha yang kaya, tetapi bertemanlah dengan pelaku usaha yang biasa di mana dia bekerja untuk dirinya sendiri. Mulai dengan bergaul dengan pengusaha yang dekat dengan tempat tinggal Anda. Itu bisa membantu menciptakan pemikiran, "Jika mereka bisa, maka saya juga."

Bertemulah dengan pelaku usaha dari berbagai industri. Semakin beragam gaya kewirausahaan yang ditemui, maka semakin kaya pengalaman kita.

Lantas bagaimana jika kita tidak kenal satu orang pun pengusaha? Mulailah bertanya dengan orang-orang untuk mengenalkan Anda ke sejumlah pengusaha. Bisa juga dengan mengikuti sebuah kelompok lewat LinkedIn atau Facebook. Cari teman pelaku usaha dari sana. Siapa tahu Anda bisa banyak bertemu pengusaha lewat jejaring sosial tersebut.

Kedua, pilih sejumlah pelaku usaha sebagai panutan. Pelaku usaha yang dijadikan contoh kiranya yang sudah terbukti kesuksesannya di dunia usaha. Mungkin kita tidak bisa berbincang dengan mereka secara dekat, tapi kita bisa melakukan analisa kesuksesannya. Kita bisa memilih sejumlah merek ataupun perusahaan yang kita sukai.

Lalu, coba telaah pemilik usahanya melalui banyak hal seperti situs perusahaannya dan profil pengusahanya di media atau artikel lainnya. Bahkan mungkin ada buku mengenai otobiografi pengusaha tersebut yang bisa kita baca. Pelajari kepribadiannya dan gaya kepemimpinannya yang telah sedemikian rupa membentuk mereka atau perusahaan yang dijalankannya.

Ketiga, coba senangi bisnis kecil sebagai seorang pelanggan. Selain berteman dengan pengusaha, penting juga untuk berhubungan dengan bisnisnya. Tidak perlu langsung berpikir sebuah bisnis besar. Coba lirik sebuah bisnis kecil atau bisnis yang baru saja dimulai yang Anda sukai.

Cari tahu pengalaman atau cerita pemilik usahanya. Apa yang mereka lakukan untuk menjadi berbeda. Lantas berpikirlah sebagai seorang konsumen karena dengan cara itu Anda bisa tahu apa yang menarik yang kiranya bisa diambil sebagai masukan untuk usaha Anda.

Keempat, melawan mitos berbicara bisnis. Maksudnya, sering kali calon pelaku usaha berpikir bahwa dibutuhkan pengetahuan dan keahlian yang mumpuni untuk memulai usaha. Padahal tidak perlu menjadi lulusan MBA untuk berwirausaha.

Apa yang harus dilakukan untuk mendapatkan pengetahuan berbisnis? Coba berlangganan sebuah majalah bisnis dan baca sesuatu yang Anda suka. Melalui hal itu, Anda bisa melihat bagaimana seseorang mengembangkan bisnisnya ataupun bagaimana menangani suatu masalah dalam berbisnis.

Jika Anda telah mulai berteman dengan pelaku usaha, belajar banyak dengan membaca apa pun, berpikir lebih mengenai seperti apa menjadi seorang pengusaha, maka Anda akan tahu bahwa berbisnis tidak semenakutkan yang Anda pikir selama ini. Anda pun tidak perlu menunggu suatu waktu untuk menjadi wirausahawan, tapi sesegera mungkin.

Sumber :
Forbes

Sri Berinovasi dengan Kue Non-Terigu (INSPIRASI)


Ester Meryana | Erlangga Djumena | Kamis, 22 Maret 2012 | 08:46 WIB

0842416620X310.jpgKompas.com/Ester MeryanaSri Murhatiningsih, pemilik usaha Hannah Cake&Cookies, bertemu dengan Menteri Perdagangan Gita Wirjawan, di Kementerian Perdagangan, Jakarta, beberapa waktu lalu.


KOMPAS.com
- Dalam berbisnis harus berinovasi. Tanpa inovasi, bisnis bak sayur tanpa garam. Bisnis dengan cara yang beda dari yang biasa itulah yang dilakukan seorang Sri Murtiningsih. Ia adalah pemilik usaha Hanah Cake and Cookies. Usaha kue telah digeluti Sri sejak ia kuliah.

Sekitar tahun 1992-1994, ia menjajakan kue untuk acara pernikahan. Pernah ia menjual kue sebanyak 1.500 potong untuk satu pesanan saja. "Tapi terputus karena selesaikan kuliah," ujar Sri kepadaKompas.com, Minggu (18/3/2012).

Usaha kuliner ini pun dilanjutkannya pada tahun 2003. Sri yang pekerjaannya ibu rumah tangga ini melanjutkan usaha karena untuk kebutuhan mendesak di keluarganya. "Waktu itu jujur karena kepepet. Suami nggak punya ongkos," cerita dia.

Kala itu, ia menjual cake biasa dengan bahan dasar tepung terigu. Ia pun menjualnya dengan cara menitip di empat toko sekitar Depok. Ia juga menitip kue di lima fakultas di Universitas Indonesia hingga ke Sucofindo dan Bidakara. Dalam satu hari, ia membuat satu loyang kue yang kemudian dibagi jadi 36 potong. "Sempat sisa, ditaruh di bawah etalase. Bukan terjual justru dimakan anaknya (yang punya toko)," tuturnya.

Lalu, Sri pun mengambil langkah untuk ikut pelatihan di bidang kuliner tahun 2006-2007. Penggunaan tepung singkong menjadi bagian dalam pelatihan tersebut. Lantas ia pun mencoba menggunakan tepung singkong ini untuk usahanya. Ia mulai pakai tepung ini sebagai bahan dasar membuat kue tahun 2008. Sejak itu, ia tidak lagi memakai tepung terigu sebagai bahan dasar kuenya, kecuali untuk kue jenis black forest.

Sri menuturkan, dari 20 orang yang ikut pelatihan, hanya dirinya yang masih terus bertahan menggunakan tepung singkong. Awalnya, ia mengaku susah menggunakan tepung yang berasal dari umbi-umbian tersebut. Dikatakannya, kualitas singkong bisa jelek jika musim hujan. "Cuaca bagus, singkong bagus," tuturnya.

Kesulitan lainnya adalah mengenai volume pembelian tepung yang harus dalam jumlah besar dari pabriknya. Setiap pembelian, Sri harus beli minimal 50 kilogram. Satu kilogram tepung singkong seharga Rp 6.000. Karena harus beli banyak, ia pun tidak memakai semua tepung. Sebagian ia jual kembali. "Kan belum banyak di pasaran," ungkapnya.

Kondisi yang demikian tak membuat semangat Sri padam untuk mengembangkan usaha yang sebenarnya membantu program diversifikasi pangan pemerintah. Ia pun menyebutkan banyak hal positif dari tepung singkong ini. Ketimbang tepung terigu, tepung singkong ternyata lebih banyak kandungan serat, protein, zat besi, hingga kalsium. Singkong pun punya kandungan garam yang rendah. "Lebih padat teksturnya daripada tepung terigu," kata Sri menjelaskan perbedaannya ketika diolah menjadi kue.

Karena keunggulan tepung singkong ini, ia pun menyasar anak-anak autis sebagai konsumennya. Karena anak autis harus makan makanan yang gluten free. Jadi tepung dari umbi-umbian menjadi salah satu yang masuk kriteria. Modal yang harus disiapkannya untuk melayani konsumen khusus ini pun terbilang besar. Lantaran kue tidak bisa sembarang membuat. Ada bahan-bahan tertentu yang tidak bisa dikonsumsi. Modalnya, kata Sri, bisa di atas Rp 500.00 untuk sekali pesanan. Untungnya, pesanan lancar-lancar saja. Produk Sri bisa pesan lewat pesan teks (SMS) dan pembayarannya melalui transfer.

Usaha kue browniesnya pun sekarang tidak hanya memakai tepung singkong. Ia juga memakai sagu ganyong yang juga jenis umbi-umbian. Jika tepung singkong didapatkan dari pabrik, sagu ganyong diperolehnya langsung dari petani di daerah Ciamis.

Keanekaragaman bahan pangan yang ditunjukkan dalam usahanya membawa Sri mendapatkan penghargaan dari Kementerian Perdagangan tahun 2009. Sri berhasil menang UKM Award untuk program diversifikasi pangan. Selanjutnya, ia pun menjadi UKM binaan Kemendag. Manfaatnya, ia diikutsertakan dalam sejumlah kegiatan seperti Food Security Summit.

Perlu diketahui, usaha Sri bukanlah tanpa hambatan. Ia bercerita, usahanya ini masih punya masalah permodalan. Pasalnya, ia berkeinginan mempunyai pabrik kue sendiri dan toko kue kecil. Pemasaran juga masih menjadi masalah usahanya. Karena itu, ia pun masih menjajakan produknya dengan cara pesanan. "Masih pesanan misalnya untuk komunitas ibu-ibu (yang anaknya penyandang autis)," tambahnya.

Sekalipun demikian, Sri berharap pendirian pabrik dan toko kue segera terwujud. Sekarang ini dia masih membuat kue brownies dan cookies di dapur rumahnya. "Usaha sih pingin buat mini factory, tapi mahal biaya peralatannya. Ya mudah-mudahan tahun depan," pungkas Sri.

FESTIVAL UKM NASIONAL 2012


festival ukm nasional 20123 Festival UKM Nasional 2012

Bagi-bagi Domain Premium Gratis di Festival UKM Nasional

Marketeers bersama mitra “Bisnis Lokal Go Online” akan menyelenggarakan “Festival UKM Nasional: Menuju UKM yang Tangguh dan Kreatif” pada tanggal 31 Maret 2012 di Convention Hall, SMESCO Tower, Jakarta.

Program “Bisnis Lokal Go Online” ini merupakan inisiatif sebuah inisiatif dari GOOGLE bekerja sama denganKementerian Koordinasi Perekonomian, Kementerian Industri, Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah, Kamar Dagang dan Industri (KADIN), serta Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI), Bakrie Connectivity, Asosiasi Perguruan Tinggi Informatika dan Ilmu Komputer (APTIKOM), Melsa dan Multiply.comsebagai mitra program.

Program ini pula merupakan inisiatif global yang dilakukan oleh Google bersama mitranya di beberapa negara sebagai wadah bagi Usaha Kecil dan Menengah (UKM) untuk menggunakan media online sebagai bagian dari bisnis mereka.

Festival UKM Nasional ini merupakan bentuk dari sosialisasi program tersebut di atas dan akan bagi-bagi website gratis dan domain gratis (web.id) dan premium domain (co.id) gratis kepada para UKM.

Acaranya sendiri didesain sebagai seminar, workshop untuk site-builder dari Google, serta pameran case study pelaku UKM yang sukses di dunia online.

Ini kesempatan GRATIS! bagi Anda pelaku UKM, terutama yang ingin:

  1. Belajar Low Budget, High Impact Marketing Langsung Dengan Hermawan Kartajaya
  2. Belajar Goblok Bersama Bob Sadino
  3. Belajar Menjadi UKM Yang Super Langsung Dengan Mario Teguh
  4. Gratis Bawa Pulang Website dan Domain premium CO.ID atau WEB.ID Untuk Anda mulai usaha di dunia Online!
  5. Tips dan pelatihan yang berkelanjutan

Daftar Festival

sumber kompas
2cd62e540bae6739e4ccca71a728ba72.gif

Pecel lele si peraup rezeki hingga dini hari


TAWARAN KEMITRAAN KULINER: SEA FOOD DAN PECEL LELE

Oleh Fahriyadi, Eka Saputra – Rabu, 21 Maret 2012 | 13:13 WIB

Pecel lele si peraup rezeki hingga dini hari

Bisnis warung tenda yang menjual makanan seafood atau pecel lele saat ini semakin marak. Bisnis kuliner kelas kaki lima ini begitu hidup dan nyaris tak pernah sepi pembeli.

Maka itu, bagi PT Smart Mandiri Group, potensi yang besar itu sayang untuk dilewatkan. Perusahaan yang awalnya fokus memasok ikan lele ke para pedagang pecel lele di kawasan Bogor itu, belakangan terjun langsung ke bisnis warung tendaseafood.

Mulai Desember 2011, Smart Mandiri pun mulai membuka gerai warung tenda dengan nama Seafood & Pecel Lele King Queen 5 (KQ5). Pada saat bersamaan, KQ5 langsung menawarkan kemitraan kepada investor yang berminat.

Munarko Muslim, pemilik kemitraan Seafood & Pecel Lele KQ5 ini bilang, menjamurnya warung tenda pecel lele dan seafood skala kaki lima menandakan bahwa bisnis ini memang terus berkembang. "Itu juga yang kami rasakan saat menjadi pemasok ikan lele," ujarnya.

Nah, kalau Anda berminat, KQ5 menawarkan tiga paket kemitraan yakni paket ekonomis dengan investasi sebesar Rp 40 juta, lalu paket reguler dengan investasi Rp 55 juta, serta paket perdana yang senilai Rp 60 juta.

Tapi, kata Munarko, untuk sementara ini pihaknya akan fokus dulu menawarkan paket perdana. Paket kemitraan ini semacam master franchise yang akan membawahi paket reguler dan paket ekonomis di wilayah tersebut.

Ia bilang, nilai investasi itu sepenuhnya digunakan untuk pembelian peralatan dan bahan baku awal, serta tanpa royalty fee. Menurut hitungannya, kalau mitra bisa memperoleh omzet Rp 1,2 juta-Rp 1,8 juta per hari, mereka bisa balik modal dalam enam sampai delapan bulan.

Munarko yakin, omzet sebesar itu bisa diraup si mitra bila pintar memilih lokasi usaha yang strategis. Misalnya, banyak dilalui kendaraan serta masih cukup ramai pada tengah malam hingga dini hari. "Biasanya kami mulai buka dari jam 16.30-02.00 dini hari," ujarnya

Kata Munarko, KQ5 menawarkan menu bervariasi dengan harga yang masuk akal. Aneka menu seafoodmisalnya, dibanderol mulai Rp 7.000 hingga paling mahal Rp 50.000 seporsi untuk kepiting. Adapun pecel lele dijual Rp 9.000 seporsi dan pecel ayam Rp 10.000 per porsi.

Saat ini, KQ5 sudah memiliki tiga gerai, dua di antaranya milik mitra di Bandung dan Bogor. Tahun ini, KQ5 menargetkan bisa menggandeng satu mitra baru setiap bulan. Menariknya, berbeda dengan kemitraan lain, KQ5 juga menerapkan sistem kepemilikan perorangan dan syariah. "Dalam kemitraan syariah satu gerai bisa dimiliki setidaknya lima orang di dalamnya," ujar Munarko.

Managing Director SarosaTM Consulting Group, Pietra Sarosa, menilai bahwa prospek jangka panjang usaha ini cukup baik. Karena jenis makanan yang ditawarkan termasuk menu makanan yang memang dicari oleh banyak orang. "Namun karena kompetisi ketat, rasanya harus juara, harga juga harus bisa bersaing," ujarnya.

Seafood & Pecel Lele KQ5
Jl. KH Soleh Iskandar No. 474
Cimanggu-Bogor
Telp: 0251-8347880

http://peluangusaha.kontan.co.id/news/pecel-lele-si-peraup-rezeki-hingga-dini-hari/2012/03/21

Tanpa pupuk kimia, melon ladika berlimpah (2)


BUDIDAYA MELON LADIKA

Oleh Noverius Laoli, Noverius Laoli, Eka Saputra – Kamis, 22 Maret 2012 | 13:42 WIB

Tanpa pupuk kimia, melon ladika berlimpah (2)

Budidaya melon ladika kini semakin diminati. Terlebih permintaan melon ini cukup tinggi di pasaran. Namun, bagi Anda yang ingin membudidayakan melon ladika ada beberapa hal yang harus diperhatikan.

Amin, petani melon ladika dari Serdang, Medan bilang, tanaman ini dapat dibudidayakan di ketinggian tanah antara 300 meter-900 meter di atas permukaan laut (dpl).Melon juga tumbuh baik di suhu optimal 25 derajat celcius-30 derajat celcius.

Adapun jenis tanah cocok untuk tanaman ini adalah tanah liat berpasir. Sebab, tanah ini mengandung banyak bahan organik, seperti andosol, latosol, regosol, dan grumosol.

Namun, jika tanah tidak memiliki unsur-unsur tersebut, petani dapat mengakalinya dengan menambahkan bahan organik dan pemupukan. Jauh lebih baik jika menggunakan pupuk alami.

Tanah yang terlalu basah dan memiliki tingkat curah hujan yang tinggi tidak disarankan. Sebab, tanaman ini membutuhkan panas matahari yang cukup dari pagi sampai sore.

Nah, untuk bibitnya bisa didapat dari para petani di Jawa Tengah. Amin membeli bibit dalam kemasan kiloan. "Harga bibitnya Rp 150.000 per kilogram," ujar Amin.

Sebelum ditanam di lahan, bibit disemai dulu di polybag selama enam hari. Setelah itu akan tumbuh kecambah seukuran 10 senti meter (cm). Bila kecambah telah tumbuh, bibit siap ditanam di lahan perkebunan dengan jarak tanam sekitar 40 cm.

Tanaman melon ini harus rajin disiram minimal sekali dalam sehari. "Bisa pagi atau sore," ujar Amin.

Petani lain, Aenuddin asal Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) menambahkan, budidaya melon tidak bisa sembarangan. Menurutnya, butuh perhatian khusus, terutama dalam hal pemupukan, pengairan, dan penyiangan. “Setiap 200 meter persegi bagusnya dijaga dua orang. Baru hasilnya bisa maksimal,” ujar Aenuddin.

Terkait dengan pilihan tanah, ia menyarankan untuk menggunakan lahan bekas tanaman padi. Aenuddin juga menyarankan untuk tidak menggunakan pupuk kimia, seperti NPK (nitrogen phospate kalium). Soalnya, penggunaan pupuk ini tidak menjamin tanaman melon bisa berbuah banyak.

Ia justru menyarankan petani menggunakan pupuk organik, seperti pupuk kandang atau kompos. Dari pengalamannya, dengan menggunakan pupuk organik, tanaman melon sudah berbuah sekitar 60 hari-70 hari sejak ditanam, dengan hasil lumayan banyak.

Aenuddin membenarkan melon ladika membutuhkan penyinaran cukup. Makanya, kalau musim hujan ia hanya menanam melon di lahan seluas 2 hektare. "Terlalu banyak air tidak bagus. Bunganya banyak pecah dan tak jadi buah,” ujarnya.n

(Selesai)

source: http://peluangusaha.kontan.co.id/news/tanpa-pupuk-kimia-melon-ladika-berlimpah-2/2012/03/22

Bisnis manis dari melon ladika (1)


BUDIDAYA MELON LADIKA

Oleh Noverius Laoli, Eka Saputra – Rabu, 21 Maret 2012 | 13:17 WIB

Bisnis manis dari melon ladika (1)

Ia membudidayakan melon ladika di lahan seluas 8 hektare (ha). Lokasinya berada di Desa Ujung Rambung, Kecamatan Pantai Cermin, Kabupaten Deli Serdang. Dengan lahan seluas itu, ia mengaku bisa memanen melon ladika setiap hari.

Ia bilang, dengan lahan yang luas memungkinkannya melakukan penanaman dalam waktu berbeda-beda. Dengan begitu, melon dapat berbuah secara bergiliran setiap hari. Menurut Amin, setiap 1 ha melon ladika menghasilkan 15 ton sekali panen. Maka, dengan luas lahan 8 ha, ia bisa menghasilkan 120 ton sekali panen.

Saat ini, ia bisa memanen rata-rata 2 ton per hari. Dengan harga jual Rp 7.000 per kg, maka sekali panen dalam sehari ia bisa meraup omzet Rp 14 juta. Ada pun total omzet dalam sebulan sebesar Rp 420 juta dengan laba bersih sekitar 35%.

Budidaya melon ladika juga ditekuni Aenudin, petani asal Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Ia terjun ke usaha ini sejak 2009.

Selain dari NTB sendiri, kini ia juga banyak mendapat pesanan melon ini dari Jakarta, Semarang, Surabaya, dan Bali. Aenudin membudidayakan melon ladika di lahan 2 ha hingga 15 ha, tergantung musim.

Jika sedang musim kemarau, seluruh lahan ia tanami melon ladika. Tapi jika sedang musim hujan, ia hanya menanam di lahan seluas 2 ha saja. "Melon tidak terlalu bagus jika musim hujan," ujarnya.

Dengan lahan 2 ha, Aenudin bisa panen setiap 60 hari-70 hari. Setiap satu ha bisa ditanami 200-250 batang pohon melon. Satu batang menghasilkan 2 kg-3 kg melon. Dari situ, omzetnya dalam sekali panen bisa mencapai Rp 80 juta, dengan laba sekitar 50%.

(Bersambung)

source: http://peluangusaha.kontan.co.id/news/bisnis-manis-dari-melon-ladika-1

Bahan bakar kompor berbentuk jeli bioetanol


GREEN BUSINESS JELI BIOETANOL

Oleh Eka Saputra – Kamis, 22 Maret 2012 | 13:26 WIB

Bahan bakar kompor berbentuk jeli bioetanol

Pria asal Surabaya ini mengolah bioetanol cair menjadi berbentuk jeli. Bioetanol yang digunakan umumnya berbahan baku cassava ataumolasses. Selanjutnya, bioetanol jeli itu dikemas dalam kaleng bekas.Tak bisa dipungkiri, sumber energi fosil kini semakin langka dan mahal. Terbatasnya sumber energi fosil itu telah mendorong pengembangan sumber energi terbarukan. Contohnya, Ahmed Tessario yang menekuni usaha pemanfaatan bioetanol sebagai bahan pengganti spiritus untuk kompor pemanas makanan.

Ia sengaja menggunakan kaleng bekas karena mengusung konsep ramah lingkungan. “Karena berbentuk jeli jadi lebih praktis, tidak mudah tumpah, apinya biru, dan lebih cepat panas,” kata Ahmed yang lulusan Institut Teknologi Surabaya itu.

Karena lebih cepat panas, ia mengklaim, produknya itu bisa menghemat energi sampai 30% dibandingkan dengan spiritus biasa. Ahmed memasarkan produk bioetanolnya itu dengan label green flame sejak pertengahan tahun silam di bawah bendera CV Joy Fresh International.

Dalam waktu singkat, produk buatannya itu kini mulai diterima pasar. Pelanggannya tersebar di beberapa daerah, mulai dari Padang, Yogyakarta, hingga Papua. Rata-rata pelanggannya adalah perusahaan penyedia jasa katering makanan, restoran, hotel, dan kelompok pecinta alam.

Ia membanderol jeli bioetanol berbobot 198 gram sekitar Rp 3.500-Rp 4.000 per kaleng. Selain itu, ia juga mengembangkan kompor kecil berlabel smart stove yang dijual Rp 35.000 per unit. Dalam sebulan, ia bisa menjual 15.000 kaleng green flame. Dari situ, omzetnya mencapai Rp 45 juta-Rp 50 juta per bulan, dengan laba sekitar 30%.

Usaha serupa juga ditekuni Arizal di Bekasi, Jawa Barat. Di bawah bendera usaha IRS’S, ia menawarkansterno pasta sebagai bahan pengganti spiritus. Sterno pasta merupakan hasil fermentasi spiritus yang diklaim lebih praktis, aman dan hemat energi.

Pengembangannya dilakukan sekitar tahun 1995. "Jadi, kami melakukan semacam fermentasi dari spiritus, yang hasilnya berupa pasta itu. Pembakarannya tidak mengeluarkan asap dan tidak tumpah, sehingga aman untuk pemanas makanan," katanya.

Arizal membanderol sterno yang dikemas dalam kaleng sekitar Rp 2.000 per kaleng. Dalam sebulan ia bisa menjual rata-rata 25.000-50.000 kaleng. Jumlah pesanan berfluktuasi, tergantung pesanan. "Kadang satu bulan hanya 15.000 kaleng," tandasnya. Pelanggannya terutama sejumlah hotel di Jawa, Kalimantan, dan Bali.

source: http://peluangusaha.kontan.co.id/news/bahan-bakar-kompor-berbentuk-jeli-bioetanol